Faktor Penyebab Mastitis Berulang pada Ibu Menyusui

Faktor yang Memicu Mastitis Berulang pada Ibu Menyusui

Mastitis merupakan peradangan jaringan payudara yang dapat terjadi selama masa menyusui dan tidak selalu disebabkan oleh infeksi bakteri. Kondisi ini dapat muncul kembali ketika pengosongan ASI tidak efektif, posisi pelekatan bayi kurang tepat, atau ibu mengalami pembengkakan payudara.

Dokter konselor laktasi dr. Anastasia Lilian S., CBS, IBCLC, mengatakan salah satu faktor yang dapat memicu mastitis berulang adalah pengosongan payudara yang tidak sempurna.

“Jadi mastitis bisa berulang itu salah satu penyebabnya karena pengosongan isi payudara yang tidak sempurna,” kata Anastasia dalam diskusi daring yang diikuti dari Jakarta, Selasa.

Pelekatan Bayi yang Tidak Tepat Dapat Memicu Peradangan

Menurut Anastasia, pengosongan payudara yang tidak optimal dapat berkaitan dengan posisi dan pelekatan bayi saat menyusu. Pelekatan yang kurang tepat juga dapat menyebabkan puting mengalami luka.

Luka pada puting dapat mengganggu proses menyusui dan berpotensi menjadi jalur masuk bakteri. Karena itu, ibu perlu memastikan posisi bayi dan pelekatan pada payudara sudah dilakukan dengan benar.

WHO juga merekomendasikan dukungan untuk membantu ibu menerapkan posisi dan pelekatan bayi yang tepat sebagai bagian dari upaya mencegah mastitis.

Jeda Menyusui Terlalu Panjang Bisa Menyebabkan Payudara Bengkak

Anastasia menjelaskan, pembengkakan payudara juga dapat terjadi ketika jadwal pengosongan ASI berubah secara signifikan.

baca juga: Tren Aura Makeup 2026 Hadirkan Riasan Gradasi Warna Unik Ungkap Ekspresi Diri

“Jadi, yang awalnya seharusnya tiap 2 sampai 3 jam, tiba-tiba terlewat satu sesi menyusuinya. Jadi lebih jauh jedanya, 4 sampai 6 jam begitu, dia (ASI) akan menumpuk dan menyebabkan bengkak,” ujarnya.

Namun, pola menyusui setiap ibu dan bayi dapat berbeda. WHO menganjurkan pemberian ASI secara responsif sesuai tanda lapar bayi, baik pada siang maupun malam hari. Bayi umumnya menyusu sekitar 8–12 kali dalam 24 jam pada masa awal kehidupannya.

Pengosongan ASI yang tidak efektif dapat berkaitan dengan pembengkakan dan peradangan. Karena itu, ibu perlu memperhatikan perubahan pola menyusui, terutama ketika bayi mulai menyusu lebih jarang atau terdapat sesi menyusui yang terlewat.

Mastitis Sering Muncul Saat Ibu dan Bayi Beradaptasi

Mastitis dapat terjadi pada masa awal menyusui ketika ibu dan bayi masih belajar membangun pola menyusui yang efektif. Pada periode ini, masalah posisi, pelekatan, atau perubahan frekuensi menyusu dapat membuat pengosongan payudara kurang optimal.

Anastasia mengatakan mastitis termasuk masalah yang cukup umum pada ibu muda. Ia juga mengingatkan ibu agar tidak langsung khawatir ketika ASI tampak belum banyak pada hari-hari pertama setelah melahirkan.

Pada awal kehidupan bayi, payudara menghasilkan kolostrum yang jumlahnya relatif sedikit tetapi sesuai dengan kebutuhan bayi baru lahir. Produksi ASI kemudian meningkat seiring proses menyusui berlangsung. WHO menyebut kolostrum sebagai ASI pertama yang kaya akan faktor perlindungan bagi bayi.

Karena itu, anggapan bahwa ASI harus langsung keluar dalam jumlah banyak sejak hari pertama dapat menimbulkan kekhawatiran yang tidak perlu. Ibu sebaiknya mendapatkan pendampingan untuk memastikan bayi melekat dan menyusu secara efektif.

Penurunan Kondisi Tubuh Juga Perlu Diperhatikan

Selain persoalan pengosongan payudara, Anastasia menyebut penurunan imunitas dapat meningkatkan risiko ibu mengalami infeksi pada payudara.

Masa setelah melahirkan juga membutuhkan perhatian terhadap pemulihan tubuh, kecukupan istirahat, asupan makanan, serta dukungan keluarga. Pendampingan yang memadai dapat membantu ibu menjalani proses menyusui dengan lebih baik.

WHO menekankan pentingnya konseling dan dukungan menyusui selama masa kehamilan maupun setelah persalinan. Dukungan tersebut dapat membantu ibu mengatasi berbagai kendala dalam membangun praktik menyusui. ([Organisasi Kesehatan Dunia][7])

Kelas Prenatal Membantu Ibu Mempelajari Teknik Menyusui

Untuk mengurangi risiko masalah menyusui, Anastasia menyarankan ibu mengikuti kelas prenatal di poliklinik laktasi ketika usia kehamilan memasuki sekitar 36 minggu.

Melalui kelas tersebut, ibu dapat mempelajari posisi menyusui, teknik pelekatan, serta cara mengenali tanda bayi siap menyusu. Pengetahuan tersebut dapat membantu ibu lebih siap menghadapi berbagai tantangan setelah persalinan.

“Kita bekali dulu dengan ilmu laktasinya, praktiknya sambil didampingi. Itu pasti membantu banget untuk mengurangi risiko masalah-masalah ke depannya,” kata Anastasia.

Dukungan keluarga juga menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Orang terdekat dapat membantu ibu mendapatkan waktu istirahat, memastikan kebutuhan sehari-hari terpenuhi, serta memberikan dukungan ketika ibu menghadapi kesulitan menyusui.

Kenali Gejala Mastitis dan Tanda yang Memerlukan Pemeriksaan

Ibu menyusui perlu mengenali gejala mastitis agar dapat segera memperoleh penanganan yang sesuai. Gejalanya dapat berupa payudara bengkak, kemerahan pada bagian tertentu, nyeri, demam, serta rasa meriang atau menggigil.

Mastitis merupakan kondisi peradangan dan tidak selalu berarti payudara mengalami infeksi bakteri. Peradangan dapat berkembang ketika masalah pada pengosongan payudara atau pembengkakan tidak tertangani dengan baik.

Ibu dapat menggunakan kompres dingin untuk membantu mengurangi rasa tidak nyaman dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mengenai obat pereda nyeri yang sesuai. Penanganan sebaiknya mempertimbangkan kondisi ibu dan tingkat keparahan gejala.

Anastasia menyarankan ibu segera memeriksakan diri apabila gejala tidak membaik dalam 24–48 jam atau justru semakin berat.

“Kalau 24 sampai 48 jam setelahnya tidak membaik, malah terjadi benjolan yang lebih besar, yang jika ditekan kok seperti ada cairan, dan lebih nyeri lagi, kita baru curiga ke arah abses,” katanya.

Mastitis yang Memburuk Dapat Berkembang Menjadi Abses

Abses payudara merupakan salah satu komplikasi mastitis yang perlu mendapat pemeriksaan medis. Kondisi ini dapat ditandai dengan benjolan yang terasa berisi cairan dan semakin nyeri.

Anastasia menjelaskan, dokter dapat mengevaluasi respons terhadap terapi dan mempertimbangkan pemeriksaan lebih lanjut apabila terdapat kecurigaan abses.

“Kalau sudah terjadi abses, ada dua kemungkinan. Dengan antibiotik diganti, adakah perubahan, perbaikan? Kalau tidak ada, ada kemungkinan harus dirujuk ke spesialis bedah di-ultrasound, USG,” ujarnya.

WHO menjelaskan bahwa abses payudara merupakan kumpulan nanah yang terlokalisasi dan dapat memerlukan tindakan untuk mengeluarkan cairan tersebut. Pemeriksaan ultrasonografi dapat membantu mengevaluasi kondisi ketika terdapat kecurigaan abses.

Dengan demikian, pencegahan mastitis berulang tidak hanya berfokus pada pengobatan ketika gejala muncul. Ibu perlu memastikan teknik pelekatan bayi sudah tepat, menjaga pola menyusui yang responsif, serta mencari bantuan konselor laktasi atau tenaga kesehatan ketika mengalami kendala. Pendekatan tersebut dapat membantu mengurangi risiko peradangan berulang sekaligus mendukung keberlanjutan proses menyusui.

Jika gejala menetap, semakin berat, atau muncul benjolan yang dicurigai berisi cairan, pemeriksaan medis penting dilakukan agar komplikasi seperti abses dapat segera dikenali dan ditangani.

baca juga: Dokter: Dukungan emosional dari lingkungan penting untuk ibu menyusui

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *