Kementan Tetapkan Barito Kuala Jadi Lokasi Prioritas Pengembangan PM-AAS
Barito Kuala Dipilih karena Potensi Lahan Sawah dan Karakteristik Rawa
Kementerian Pertanian (Kementan) menetapkan Kabupaten Barito Kuala (Batola), Kalimantan Selatan, sebagai wilayah prioritas dalam pengembangan Pertanian Modern Advance Agricultural System (PM-AAS). Program ini bertujuan mempercepat modernisasi sektor pertanian melalui penerapan teknologi dan pengelolaan usaha tani berbasis kelembagaan.
Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian Kalimantan Selatan (BRMP Kalsel) menyebut Batola menjadi daerah pertama di Kalimantan Selatan yang menerapkan program PM-AAS. Wilayah tersebut dipilih karena memiliki potensi lahan baku sawah yang luas serta karakteristik lahan rawa yang sesuai dengan pengembangan pertanian modern.
Kepala BRMP Kalsel Wahida Annisa Yusuf mengatakan Kalsel mendapatkan alokasi pengembangan PM-AAS dengan cakupan lahan mencapai 16.040 hektare. Dari total luas tersebut, Kabupaten Batola menjadi lokasi awal pelaksanaan program.
“Batola menjadi wilayah prioritas karena memiliki potensi lahan baku sawah yang luas,” kata Wahida di Banjarbaru.
PM-AAS Dorong Modernisasi Pertanian Melalui Dukungan Alsintan
Pengembangan PM-AAS di Batola menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus memperkuat kesejahteraan petani. Program tersebut mengintegrasikan penggunaan teknologi pertanian modern, pengelolaan lahan yang lebih efektif, serta penguatan kelembagaan petani.
baca juga: Kekayaan Bos Produsen Chip CXMT Zhu Yuming Melonjak Rp 216 Triliun Usai IPO
Wahida menjelaskan pemerintah memberikan dukungan berupa alat dan mesin pertanian (alsintan) serta berbagai bantuan pendukung lainnya hingga 2027. Bantuan tersebut diprioritaskan bagi kelompok tani yang aktif menjalankan program PM-AAS, termasuk Brigade Pangan.
Menurutnya, Brigade Pangan memiliki peran strategis dalam memastikan penerapan pertanian modern berjalan secara berkelanjutan. Kelompok tersebut tidak hanya bertugas dalam kegiatan produksi, tetapi juga perlu memperkuat tata kelola organisasi.
“Kami mendorong Brigade Pangan terus memperkuat tata kelola kelembagaan, khususnya dalam administrasi keuangan dan pelaporan kinerja,” ujar Wahida.
Penguatan kelembagaan dinilai penting agar program pertanian modern tidak hanya meningkatkan hasil panen, tetapi juga menciptakan sistem pengelolaan usaha tani yang lebih profesional.
Produktivitas Padi PM-AAS Batola Capai 7,7 Ton per Hektare
Implementasi PM-AAS di Batola telah menunjukkan hasil positif melalui pengembangan lahan percontohan atau demplot Brigade Pangan Semangat Muda Jaya di Desa Mekarsari, Kecamatan Mekarsari.
Pada lahan pertanian modern seluas satu hektare tersebut, produktivitas padi tercatat berada pada kisaran 6,7 hingga 7,7 ton gabah kering panen (GKP) per hektare. Varietas Siam Madu mencatat hasil tertinggi dengan produksi mencapai 7,7 ton GKP per hektare.
Capaian tersebut menunjukkan potensi penerapan teknologi pertanian modern dalam meningkatkan hasil produksi, khususnya pada wilayah dengan karakteristik lahan rawa seperti Batola.
Ke depan, Kementan bersama pemerintah daerah dan kelompok tani akan terus memperluas penerapan PM-AAS agar modernisasi pertanian dapat menjangkau lebih banyak wilayah. Program ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi produksi, memperkuat ketahanan pangan, serta meningkatkan pendapatan petani di Kalimantan Selatan.
baca juga: Kementan salurkan 140 ribu butir benih kelapa dalam di Kalsel




Leave a Reply