Hashim: Perdagangan Karbon Dorong Ekonomi Hijau

Hashim Sebut Perdagangan Karbon Jadi Terobosan Ekonomi Hijau Indonesia

Perdagangan karbon dorong agenda iklim dan ekonomi berkelanjutan

Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Iklim Hashim Djojohadikusumo menilai pengembangan ekosistem perdagangan karbon yang kredibel menjadi langkah penting bagi Indonesia dalam menghadapi tantangan perubahan iklim sekaligus memperkuat pertumbuhan ekonomi hijau.

Menurut Hashim, perdagangan karbon bukan hanya instrumen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, tetapi juga menjadi peluang ekonomi baru melalui pengelolaan aset lingkungan yang transparan dan berkelanjutan.

“Ini adalah suatu breakthrough, suatu terobosan yang saya sendiri alami, yang saya sendiri saksikan,” kata Hashim di Jakarta, Kamis.

Ia menjelaskan bahwa Indonesia telah memasuki tahap baru dalam pengembangan pasar karbon melalui berbagai instrumen pendukung, termasuk Sistem Registrasi Unit Karbon (SRUK) serta penerbitan unit karbon melalui skema Non Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (Non SPE-GRK).

SRUK menjadi fondasi perdagangan karbon yang transparan

Hashim menyampaikan bahwa keberadaan SRUK menjadi bagian penting dalam membangun sistem perdagangan karbon yang dapat dipercaya oleh pelaku nasional maupun internasional.

baca juga: Investasi Semester I 2026 Tembus Rp 1.010,6 Triliun

Menurut dia, infrastruktur tersebut merupakan capaian yang telah lama dinantikan sejak lahirnya Perjanjian Paris pada Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (COP 21) tahun 2015.

“Ini (SRUK) yang sudah ditunggu 11 tahun dari lahirnya Perjanjian Paris tahun 2015,” ujar Hashim.

Melalui sistem registrasi tersebut, pemerintah dapat memastikan pencatatan unit karbon berjalan secara lebih terukur, akuntabel, dan sesuai dengan standar yang dibutuhkan dalam perdagangan karbon.

Penguatan tata kelola perdagangan karbon juga menjadi bagian dari upaya Indonesia memenuhi komitmen penurunan emisi nasional atau Nationally Determined Contribution (NDC), sekaligus membuka peluang investasi hijau.

Kolaborasi pemerintah percepat implementasi pasar karbon

Hashim menyebut keberhasilan pembangunan ekosistem perdagangan karbon tidak terlepas dari kerja sama berbagai kementerian, lembaga, serta pemangku kepentingan terkait.

Ia menilai program tersebut menjadi salah satu kebijakan pemerintah yang dapat direalisasikan secara cepat dan mendapat perhatian positif dari berbagai negara.

“Semua pihak, semua pelaku, memuji apa yang dihasilkan pemerintah kita. Ini ada kabar baik yang saya bawa hari ini, bahwa sekarang kita bisa memasuki babak baru dari perdagangan karbon,” katanya.

Perdagangan karbon memungkinkan perusahaan atau sektor tertentu melakukan kompensasi emisi melalui pembelian unit karbon dari proyek yang mampu mengurangi atau menyerap emisi, seperti konservasi hutan, energi terbarukan, dan berbagai proyek rendah karbon lainnya.

Dengan sistem yang kredibel, pasar karbon Indonesia diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan investor sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam ekonomi hijau global.

Perdagangan karbon dukung pengembangan energi terbarukan

Selain mendukung agenda iklim, Hashim menilai ekosistem perdagangan karbon juga dapat mempercepat berbagai program transisi energi nasional.

Salah satu program strategis yang akan didukung adalah pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan kapasitas hingga 100 gigawatt (GW).

Menurut Hashim, peningkatan kapasitas energi surya menjadi bagian dari langkah pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil dan memperluas penggunaan energi bersih.

“Saya kira dengan ini kita bisa nanti menikmati program-program yang tadi sudah disampaikan, seperti PLTS yang segera akan dimulai sampai menuju ke 100 GW, dan nanti juga disusul dengan program-program lainnya,” ujarnya.

Pengembangan energi terbarukan tersebut sejalan dengan target pemerintah untuk meningkatkan porsi energi bersih dalam sistem kelistrikan nasional dalam satu dekade mendatang.

Dengan dukungan regulasi, infrastruktur perdagangan karbon, dan investasi energi hijau, Indonesia diharapkan mampu menciptakan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan. Perdagangan karbon pun menjadi salah satu instrumen penting menuju pembangunan rendah emisi yang berkelanjutan.

baca juga: Hashim nilai penambahan polhut dukung program kehutanan berkelanjutan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *