Gempa NTT, Badan Geologi ESDM Ingatkan Jalur Evakuasi

Badan Geologi ESDM Minta Warga NTT Patuhi Jalur Evakuasi Usai Gempa

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meminta masyarakat tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaan setelah gempa bumi mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu pagi. Warga juga diminta mengikuti arahan BPBD serta mematuhi rambu dan jalur evakuasi.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria mengatakan masyarakat perlu memeriksa kondisi bangunan setelah gempa. Warga juga harus menghindari informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan mengenai gempa bumi maupun potensi tsunami.

Gempa NTT Berpusat di Timur Laut Nagekeo

Gempa terjadi pada Sabtu pukul 04.58.23 WIB dan dirasakan di sejumlah wilayah NTT hingga Nusa Tenggara Barat (NTB), Bali, serta Sulawesi Selatan.

Berdasarkan data awal Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), episentrum gempa berada di koordinat 8,33 Lintang Selatan dan 121,32 Bujur Timur. Lokasi tersebut berada di Timur Laut Nagekeo, NTT.

BMKG semula mencatat gempa memiliki magnitudo 7,0 dengan kedalaman 10 kilometer. Parameter tersebut kemudian diperbarui menjadi magnitudo 7,7 dengan kedalaman 15 kilometer.

Sementara itu, GeoForschungsZentrum (GFZ) mencatat episentrum pada koordinat 8,375 Lintang Selatan dan 121,545 Bujur Timur. GFZ mencatat gempa tersebut bermagnitudo 6,25 pada kedalaman 10 kilometer.

baca juga: Impor Barang Konsumsi Melonjak 27%, Menperin Dorong Industri Lokal

Perbedaan parameter dapat terjadi karena masing-masing lembaga menggunakan jaringan pemantauan dan metode analisis yang berbeda. Data gempa juga dapat mengalami pembaruan seiring masuknya hasil pengamatan tambahan.

Kondisi Geologi Memengaruhi Kuat Guncangan

Lana Saria menjelaskan episentrum gempa berada di laut. Wilayah terdekat dengan pusat gempa memiliki kondisi morfologi yang beragam, mulai dari dataran hingga kawasan perbukitan dan pegunungan.

Daerah tersebut tersusun atas batuan gunung api berumur Tersier serta batuan sedimen berumur Kuarter. Kondisi geologi dan karakter tanah menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam memperkirakan dampak guncangan di permukaan.

Badan Geologi mencatat wilayah sekitar episentrum memiliki variasi kelas tanah berdasarkan data tapak lokal Vs30. Kawasan tersebut mencakup Kelas Tanah C, D, dan E dengan karakteristik yang berbeda.

Kelas Tanah C menunjukkan tanah sangat padat atau batuan lunak. Kelas Tanah D menunjukkan tanah sedang, sedangkan Kelas Tanah E mengindikasikan kondisi tanah lunak.

Menurut Lana, lapisan tanah yang lebih lunak dapat memperkuat guncangan gempa di permukaan. Karena itu, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan dampak gempa, terutama di kawasan dengan kondisi tanah yang rentan.

“Batuan yang telah mengalami pelapukan maupun sedimen permukaan berpotensi memperkuat guncangan gempa bumi,” ujar Lana Saria.

Gempa Berkaitan dengan Zona Sesar Naik Busur Belakang Flores

Berdasarkan parameter sumber, gempa tersebut memiliki mekanisme sesar naik. Badan Geologi mengaitkan mekanisme tersebut dengan Zona Sesar Naik Busur Belakang Flores atau Flores Back Arc Thrust.

Keberadaan zona sesar tersebut menjadi salah satu aspek penting dalam memahami aktivitas kegempaan di wilayah NTT. Badan Geologi menyebut daerah sekitar episentrum termasuk kawasan dengan tingkat kerawanan bencana gempa bumi menengah hingga tinggi.

Karakteristik geologi dan keberadaan struktur sesar membuat masyarakat perlu memahami risiko di wilayah tempat tinggalnya. Kesiapsiagaan menjadi langkah penting untuk mengurangi potensi korban dan kerusakan ketika gempa kembali terjadi.

Guncangan Terasa di Sejumlah Wilayah NTT hingga NTB

Data BMKG menunjukkan gempa menimbulkan guncangan dengan intensitas berbeda di sejumlah wilayah. Intensitas IV-V MMI tercatat di Ruteng, sedangkan Kota Bima dan Kabupaten Dompu mengalami guncangan V MMI.

Guncangan IV-V MMI juga tercatat di Ende, Labuan Bajo, Maumere, dan Sumba Timur. Perbedaan intensitas dapat dipengaruhi oleh jarak dari episentrum, kondisi geologi lokal, serta karakteristik tanah di setiap wilayah.

Setelah gempa utama, masyarakat tetap perlu mengantisipasi kemungkinan gempa susulan. Warga juga disarankan menjauhi tebing atau lereng yang berpotensi mengalami pergerakan tanah, khususnya ketika hujan turun.

Badan Geologi menekankan pentingnya mengikuti informasi resmi dari lembaga berwenang. Masyarakat juga perlu mengikuti instruksi BPBD setempat dan menggunakan jalur evakuasi yang telah ditentukan apabila kondisi mengharuskan evakuasi.

Langkah tersebut menjadi bagian penting dari kesiapsiagaan menghadapi bencana. Dengan tetap tenang, mengikuti informasi resmi, memeriksa keamanan bangunan, serta mematuhi jalur evakuasi, masyarakat dapat mengurangi risiko akibat gempa maupun potensi bahaya turunannya.

baca juga: BMKG : 111 gempa susulan terjadi pascagempa magnitudo 7,7

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *