BPH Migas Pastikan Distribusi B50 Lancar dan Aman bagi Mesin

BPH Migas Pastikan Distribusi B50 Lancar dan Aman bagi Kendaraan

Penerapan bahan bakar minyak (BBM) jenis biosolar dengan campuran biodiesel 50 persen atau B50 berjalan lancar sejak 1 Juli 2026. Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) juga memastikan penggunaan B50 tidak menimbulkan kendala pada kendaraan.

Anggota Komite BPH Migas Fathul Nugroho mengatakan pihaknya telah melakukan pemantauan langsung di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Pemantauan mencakup wilayah Jawa, Sumatera, Kalimantan, serta sejumlah daerah lainnya.

Pemantauan SPBU Menunjukkan B50 Berjalan Tanpa Kendala

Fathul menyebut kendaraan pribadi, kendaraan logistik, hingga bus dapat menggunakan B50 secara normal. Sejumlah pengemudi truk yang ditemui dalam pemantauan juga memberikan tanggapan positif terhadap penggunaan bahan bakar tersebut.

Sebelumnya, sebagian pengguna kendaraan sempat mengkhawatirkan dampak penggunaan biofuel terhadap mesin. Namun, kekhawatiran tersebut mulai berkurang setelah masyarakat merasakan langsung penggunaan B50 dalam aktivitas sehari-hari.

“Dalam perbincangan dengan sejumlah sopir truk dan pengguna mobil pribadi di SPBU-SPBU, yang tadinya khawatir dengan penggunaan biofuel, sekarang tidak lagi,” ujar Fathul dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat.

baca juga: Literasi Keuangan Remaja Masih Rendah, OJK Dorong Edukasi Sejak Dini

Menurut dia, para pengguna kendaraan memberikan testimoni bahwa penggunaan B50 tidak merusak mesin. Temuan tersebut menjadi salah satu indikator bahwa penerapan B50 dapat berlangsung secara teknis tanpa kendala berarti di lapangan.

BPH Migas Dukung B50 untuk Mendorong Swasembada Energi

BPH Migas menilai hasil pemantauan menunjukkan penerapan B50 berjalan aman dan sesuai dengan tujuan kebijakan pemerintah. Program ini juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan dalam sektor transportasi.

Pemerintah menerapkan campuran biodiesel yang lebih tinggi untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar berbasis fosil. Kebijakan tersebut sekaligus mendorong pemanfaatan bahan baku nabati dalam memenuhi kebutuhan energi domestik.

BPH Migas mendukung kebijakan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat swasembada energi melalui penerapan B50. Kelancaran distribusi menjadi faktor penting agar kebijakan tersebut dapat berjalan secara konsisten di berbagai wilayah.

Fathul menegaskan bahwa pengawasan tidak hanya berfokus pada ketersediaan produk. BPH Migas juga memastikan proses distribusi biodiesel hingga menjadi biosolar tetap aman dan terkendali bagi masyarakat.

Penyimpanan FAME Perlu Fasilitas dan Pengelolaan Khusus

Seiring meningkatnya produksi serta konsumsi B50, BPH Migas turut mendorong badan usaha memperkuat fasilitas penyimpanan Fatty Acid Methyl Ester (FAME). FAME merupakan komponen biodiesel yang digunakan dalam proses pencampuran dengan solar.

Fathul menjelaskan badan usaha sebenarnya dapat memanfaatkan fasilitas penyimpanan yang sudah tersedia. Namun, karakteristik FAME membutuhkan perhatian khusus, terutama ketika bahan tersebut disimpan dalam waktu lama.

FAME bersifat higroskopis sehingga mudah menyerap air atau uap air dari lingkungan. Kondisi tersebut membuat pengelolaan penyimpanan perlu dilakukan secara tepat untuk menjaga kualitas bahan baku biodiesel.

“Sebetulnya memang Badan Usaha bisa menggunakan fasilitas yang eksisting. Tapi karena sifat FAME yang cenderung higroskopis sehingga mudah menyerap air atau uap air, maka pengelolaannya membutuhkan perhatian khusus,” kata Fathul.

Menurut Fathul, perkembangan teknologi serta dukungan tenaga ahli di bidang teknik dan lingkungan dapat membantu mengatasi tantangan tersebut. Penguatan fasilitas penyimpanan juga penting untuk menjaga kualitas dan ketersediaan FAME.

Cadangan FAME Diperkuat untuk Menjamin Pasokan Biodiesel

Penyediaan fasilitas penyimpanan khusus tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis. Infrastruktur tersebut juga berperan dalam menjaga cadangan FAME agar pasokan biodiesel tetap tersedia ketika kebutuhan masyarakat meningkat.

BPH Migas menempatkan ketersediaan stok dan kelancaran distribusi sebagai bagian penting dalam pelaksanaan kebijakan B50. Pengelolaan yang terkendali diperlukan agar bahan bakar dapat tersedia secara berkelanjutan di berbagai daerah.

“Bagi kami BPH Migas, yang penting adalah memastikan bahwa stok dan distribusi biodiesel hingga menjadi biosolar ini aman dan terkendali bagi masyarakat,” ujar Fathul.

Dengan distribusi yang sejauh ini berjalan lancar dan pemantauan penggunaan kendaraan yang menunjukkan hasil positif, BPH Migas akan terus mengawasi implementasi B50. Penguatan infrastruktur penyimpanan FAME juga menjadi langkah penting untuk mendukung keberlanjutan pasokan biodiesel ke depan.

baca juga: BPH Migas catat konsumsi solar bersubsidi naik 15,10 persen

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *